Share a General Science : The Farm, Papers, Internet, Computer, Blogging.

Monday, December 2, 2013

13 Penyakit Berbahaya dan Menular yang Mengancam Manusia

 

  13 Penyakit Berbahaya dan Menular yang Mengancam Manusia

 

1. Brucellosis/ Abortus Menular

Penyakit yang sering menyerang sapi, kambing ,babi dan lain-lain, juga manusia.
Penyebab : Brucella abortus, B. melitensis, B. suis, B. ovis, B. canis dll. Bakteri berbentuk batang, gram - , non spora dan aerob.
Penularan : melalui makanan, respirasi, selaput lendir, perkawinan, insekta, kulit luka, masa inkubasi pada sapi 2 mg – 8 bulan.
Gejala klinis : abortus(I, II, III, IV) pada ternak yang bunting(5-8 bulan), air susu mengandung kuman, sterilitas, artritis.
Gejala patologi anatomi : penebalan plasenta, cairan janin keruh, orkhitis pada hewan jantan.

Diagnosa : isolasi dan Identifikasi kuman, uji serologis  (MRT, UAS, CFT dll) dan dari gejala klinis.

D. diff. : kejadian abortus oleh kuman lain, misal :
  • C. fetus, terjadi abortus setiap saat.
  • T. fetus, abortus dini.
  • L. pomona, tidak terjadi orkhitis.
Pencegahan : vaksinasi, vaksin hidup strain 19, mati strain 45/20.
Pengobatan : antibiotika.

2. Antrax

 Penyakit sangat menular yang sangat berbahaya, bisa menyerang semua ternak dan manusia (zoonosis) dengan gejala perakut dan  akut biasanya pada sapi, kuda dan domba, kronis pada babi.
Penyebab : Bacillus  anthracis, gram +, batang siku, aerob, dan berspora.
 Penularan : predisposisi udara dingin, kurang pakan, keletihan, tanah tercemar spora. Penularan melalui tanah yang tercemar bakteri antrak, masuk melalui luka, udara atau tertelan. Tanah berkapur/alkalis merupakan inkubator kuman. Pada tanah netral spora tumbuh vegetatif jadi memerlukan lingkungan serasi, ketersediaan pakan, suhu lembah untuk dapat berkembang biak. Lalat Tabanus sp merupakan vektor penularan. Masa tunas kuman 1-3 hari (dapat  14 hari).

Gejala klinis : tergantung jenis ternak dan fase infeksi, demam(41,5oC), gangguan pernafasan, gangguan pencernaan, feses dan urin bercampur darah, kematian mendadak. Pada manusia terdapat empat bentuk; kulit (lepuh merah sampai hitam), usus (muntah,  kolaps), pernafasan   (pleuritis, bronkopnemoni) dan gabungan (infeksi usus, bengkak bagian tubuh lain).

Gejala patologi anatomi : bangkai cepat busuk, keluar darah dari lubang tubuh, sepsis, mengembung, darah hitam seperti ter, selaput lendir kebiruan, rigor mortis negatif. D. diff. Pasteurella,  bengkak leher pada sapi dan babi. Clostridium, mati mendadak pada sapi dan domba Anemia, pada kuda AE dan SE, pada sapi dan kerbau.
Pengobatan : dengan antibiotika tetapi hasilnya kurang memuaskan (karena mengalami intoksikasi). Pengendalian : pengobatan masal, penutupan lokasi, vaksinasi, managemen ditingkatkan/diperbaiki.

3. Jembrana/ Keringat darah

 Disebut juga penyakit Rama Dewa, suatu penyakit akut dan fatal pada sapi bali (pertama kali di Jembrana 1964). Gejala serangan yang menyolok adalah terjadinya demam tinggi dan perdarahan di berbagai organ dalam tubuh dan kulit. Terutama menyerang sapi bali dewasa dengan rata-rata umur 3-4 tahun, dalam keadaan tertentu hewan dapat sembuh

Penyebab : Retrovirus

Penularan : hanya menyerang sapi bali, dan sapi rambon (persilangan sapi bali dan lokal). Kerbau, kambing, domba dan babi kebal, dapat diperantarai vektor lalat Tabanus Rubidus

 Gejala klinis : demam tinggi, mencret berdarah, lesu, anoreksia, air mata dan air liur keluar secara berlebihan, pembesaran kelenjar limfe preskapularis dan parotis, mukosa rongga hidung, bagian atas lidah, rongga mulut/gusi mengelupas. Perdarahan kulit/keringat darah di daerah pinggul, punggung, tungkai kaki, perut dan skrotum, sapi bunting antara 4 bulan dapat abortus.

Gejala patologi anatomi: pembengkakan kelenjar limfe, splenomegali, perdarahan sub kutan, perdarahan rongga perut, dada, jantung, paru, ginjal membengkak, penebalan vesika urinaria

Diff. : MCF, SE, IBR, Surra, Rinderpest, BEF

Pengendalian : penyuntikan antibiotika spektrum luas, pemberantasan vektor, larangan pengeluaran sapi dari bali. Daging penderita dapat dikonsumsi.

4. Septicaemia Epzootica ( SE ) / ngorok

 Penyebab : bakteri Pasteurela multocida serotipe 6B dan 6E, gram negatif, kokoid dan bipoler, tidak membentuk spora, non motil. Sinonim, Penyakit ngorok, Septikaemia hemoragika, penyakit menular pada sapi, kerbau, babi, domba, kambing, kuda. Pada kejadian akut, kerugian berupa kematian hewan,
Penularan : pasteurela akan bereplikasi pada daerah tonsil, sehingga terjadi pembengkakan tonsil (gejala awal) kemudian bakteri akan masuk dalam sirkulasi/septikemia. Faktor predisposisi pada hewan yang kelelahan, kedinginan, anemia.
Gejala klinis : demam suhu 40 – 41oC, sukar bernafas, gemetar, mukosa mata hiperemik. Anoreksia, gerak rumen, gerak usus menurun/hilang, terjadi konstipasi, epistaksis, hematuria, urtikaria. 
Bentuk SE :  
  • Busung, edema yang meluas di daerah leher bagian ventral sampai gelambir, kaki muka, 90% mati, dispnu, ngorok.
  • Pektoral, batuk kering, leleran hidung, sesak nafas, frekuensi nafas meningkat. Pada keadaan kronis hewan kurus, sering batuk, anoreksia, diare frekuen/melena.
  • Intestinal, terjadi gastroenteritis.
Gejala patologi anatomi : edema pada glotis, perilaringeal, peritrakeal. Perdarahan mukosa organ tubuh. Ptekie pada atrium dibawah epikardium. Peritonitis awal dan pnemonia. Diagnosa : berdasarkan gejala klinis dan hasil pemeriksaan lab. yaitu isolasi kuman, pengecatan bakteri (Giemsa, MB), uji biologis pada kelinci.
D. Diff. : antraks, Blackleg dan gigitan ular.
Pengobatan dan pengendalian : penyuntikan antibiotika (streptomisin, kloromisetin, teramisin, aureomisin, sulfametasin. 
Pengobatan hanya bisa dilakukan dalam stadium penyakit yang masih dini.

5. Newcastle Disease (ND)

 Nama lain
   Pseudofowl Pest, Pseudovogel Pest, Aypishe Geflugelpest, Pseudopoultry Plaque, Avian Pest, Avian Distemper, Ranikhet Disease, Penyakit Tetelo, Avian pneumoence-phalitis.

Kejadian
  -    Meliputi seluruh dunia (world wide)
  -    1926   : kejadian di Indonesia ditemukan oleh Kraneveld
  -    Hewan yang diserang : ayam pedaging, ayam petelur, ayam kampung, dll.

 Kerugian Ekonomi
  -    Mortalitas & morbiditas yang tinggi
  -    Penurunan kualitas & kuantitas produksi telur
  -    Biaya pengendalian yang tinggi
  -    Dapat menjadi predisposisi penyakit lain

Sifat Penyakit : kompleks
Beda isolat / strain virus >> variasi gejala klinik
                                       >> variasi tingkat keparahan penyakit

Etiologi
Avian Paramoxyvirus dari famili Paramyxoviridae

Karakteristik Virus ND
  -    Virus RNA Single Stranded
  -    Berbentuk pleomort, biasanya bulat, diameter 100 – 500 nm
  -    Terdapat 9 serotipe Avian Paramyxovirus (PMV-1 s/d PMV-9)

  • PMV-1    :     ayam & kalkun 
  • PMV-2    :     ayam, burung & kalkun
  • PMV-3    :     kalkun
  -    Mampu mengaglutinasi & hemolisis SDM
  -    Punya aktivitas neuraminidase
  -    Mampu bereplikasi dalam sel tertentu
  -    Mampu bertahan dalam feses (T 370 C -> 1 bulan) 
Berdasarkan Virulensi :
Galur Velogenik
     - MDT    : 40 – 70 jam ICPI : 2,0 – 3,0 IVPI : 0,5 – 2,8
     - Contoh: Holland ‘70, Herts ’33/’64, Herts ’33/’56, GB Texas, Milano
Galur Mesogenik
     - MDT    : 44 – 7 0 jam ICPI : 0,4 – 1,9 IVPI : 0,0 – 0,5
     - Contoh: Komarov, Roakin, Mukteswar, England ’66
Galur Lentogenik
     - MDT    : 96 – 168 jam ICPI : 0,0 – 0,4 IVPI : 0,0
     - Contoh : Ulster 2C, Queensland V4, F, B1, La Sota
Hewan peka: ayam – itik / kalkun
 Patogenitas dipengaruhi oleh :
  • Strain / galur virus 
  • Rute infeksi
           - Alami    : hidung, mulut, mata   >> gejala pernafasan
           - Buatan    : injeksi IM, IV            >> gejala syaraf
  • Umur ayam (umur muda lebih sensitif) 
  • Kondisi lingkungan
Penularan
-    Langsung             : ayam sakit ke ayam sehat
-    Tidak langsung    : Peralatan kandang, pekerja, pakan, dll. 
 Berdasarkan gejala klinik dibagi menjadi: 
  • Bentuk Doyle / Asia ->  Velogenic – Viscerotropic ND dijumpai perdarahan & nekrosis pada saluran pencernaan. 
  • Bentuk Beach / Amerika ->  Velogenic – neurotropic ND dijumpai gangguan pernafasan & syaraf
  • Bentuk Beaudette ->  Patologik mesogenik kurang patogen
  • Bentuk Hitchner ->  Patologik lentogenik dijumpai infeksi pernafasan ringan
  • Bentuk enterik asimtomatik ->  patologik lentogenik dijumpai infeksi ringan pencernaan
Gejala Klinik VVND
     - Lesu, lemah                                  - Paralisa (kaki, sayap)
     - Frekuensi prenafasan naik            - Tremor otot
     - Nafsu makan turun                        - Tortikolis
     - Konsumsi minum menurun           - Produksi telur menurun s/d berhenti
     - Diare, warna hijau                         -  Kerabang telur pucat
Kematian s/d 100%

Gejala Klinik Tipe NVND
     - Gangguan pernafasan                          - Albumin lebih encer
     - Gangguan syaraf dalam 1 – 2 hari      - Kematian 50 – 90%      
     - Kerabang telur kasar(sandy egg)        - Produksi telur menurun
Gejala Klinik Tipe Mesogenik
  • Gangguan pernafasan 
  • Produksi telur menurun s/d beberapa minggu
  • Mortalitas rendah
Gejala Klinik Tipe Lentogenik 
  • Tidak timbulkan masalah pada ayam dewasa 
  • Gangguan pernafasan pada ayam muda
Perubahan Patologi Anatomi 
  • Nekrosis & hemorhagi sal. pencernaan (proventriculus, vetriculus, duodenum dst)
  • Kongesti & hemorhagi pada trachea
  • Airsacculitis
  • Penebalan kantong udara dengan timbunan eksudat
  • Kuning telur dalam rongga perut
  • Hemorhagi ovarium
  • Degenerasi folikel ovarium
Pengendalian 
  • Antibiotik >>  infeksi sekunder bakteri
  • Sanitasi / desinfeksi
  • Vaksinasi
  • Perbaikan manajemen 

6. Salmonellosis

 Salmonellosis = Disentri
Diare darah pada pedet (2-4 bulan) dan dewasa.

Penyebab : Salmonella sp.
Gejala klinis : diare campur darah, anoreksia, dehidrasi, depresi, demam. Pada serangan akut dapat menimbulkan kematian (24-48 jam), penderita kronis terjadi batuk dan frekuensi nafas yang meningkat.

  Pengobatan : air minum dengan antibiotika, injeksi antibiotika.

7. Infectious Bovine Rinhotracheitis (IBR)

 Agen penyebab penyakit IBR adalah Bovine herpesvirus Subtipe 1 (BHV-1) dengan gangguan pernapasan, gangguan reproduksi dan gejala syaraf sebagai gejala klinis utama

Gejala Klinis
Demam, rhinotracheitis, konjungtivitis, vulvovaginitis, enteritis dan encephalitis. Peningkatan frekuensi pernapasan, anoreksia, penurunan produksi susu (pada sapi perah), serta menurunkan bobot
badan. Dalam jangka waktu satu atau dua hari, terbentuk leleran hidung encer dan hidung tampak kemerahan leleran hidung yang encer menjadi mukopurulen

Faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan sindrom pernapasan kompleks yang disebut sebagai "demam pengapalan" (shipping fever). Sindrom ini merupakan ciri khas infeksi BHV-1 yang diikuti dengan infeksi sekunder (biasanya bakteri Pasteurella haemolitica) yang mungkin dapat berpotensi
menghasilkan pneumonia yang fatal

Gejala klinis syaraf ditandai dengan gerakan-gerakan tubuh yang tidak terkoordinasi, berputar-putar, otot gemetar, berbaring, kehilangan keseimbangan, kebutaan, selalu menjilat panggul dan akhirnya mati

Penularan : lewat perkawinan

Patologi Anatomi :
Perdarahan mukosa nasal, perdarahan mukosa vulva dan vagina, hiperemia mukosa trakhea, pneumonia, petechie mukosa usus halus dan usus besar  

8. Avian Infuenza

Penyebab : Virus avian influenza dari famili Orthomyxoviridae. Virus memiliki envelope  dengan 2 antigen permukaan: hemaglutinin (H) dan neuraminidase (N) >> sebagai dasar penggolongan virus (subtipe).
Terdapat 3 tipe virus (A, B dan C):  berdasarkan karakter antigenik protein M dalam envelope virus dan nukleoprotein.
Virus influenza tipe A >> menyerang hewan domestik (equine, swine, avian) >> menyebabkan epidemik pada manusia
Virus influenza tipe B dan C >> tidak menyerang hewan
Pada virus tipe A >> terdapat 15  antigen H dan 9 antigen N >> terdapat 135 kemungkinan kombinasi (subtipe)

Sifat Virus
Virus sangat peka dan tidak tahan terhadap:
  • Pemanasan : 56°C selama 3 jam, 60°C selama 4,5 menit, atau 80°C selama 1 menit. 
  • Pelarut lemak (eter, detergen) 
  • Sinar ultraviolet 
  • Desinfektan: Iodine, formalin 2 ~ 5%, amonium kuartener, asam paraasetat, hidroksiperoksida, senyawa fenol, klorin, dll.
Penularan
Reservoar (virus pada burung sehat: migratory waterfowl, shore birds, sea birds) Virus terdapat pada feses dan eksudat hidung
Virus dapat disebarkan melalui : burung/unggas terinfeksi, udara, peralatan, wadah telur, air, kendaraan dan orang/pekerja

Gejala klinik pada unggas
Sangat Bervariasi :
  • Mati mendadak, Jengger, pial, kulit dada dan paha berwarna biru keunguan (sianosis); 
  • Kadang-kadang ada cairan dari mata dan hidung; 
  • Pembengkakan di daerah bagian muka dan kepala; 
  • Perdarahan di bawah kulit (sub kutan); 
  • Perdarahan titik (ptechie) pada daerah dada, kaki dan telapak kaki; 
  • Kematian unggas : dapat mencapai 100%
Gejala Patologi anatomi
  • Pendarahan pada trachea 
  • Bercak-bercak darah merata pada proventriculus 
  • Pendarahan dan Pembendungan pada ovarium 
  • Pendarahan dan Pembendungan pada usus
GERAKAN TUMPAS AI (DICANANGKAN BPK. PRESIDEN RI TGL. 29 SEPTEMBER 2005 DI PASURUAN-JAWA TIMUR)
Tidak perlu panik dan khawatir berlebihan dengan flu burung, karena penyebabnya adalah virus lemah yang mudah mati oleh panas.
Usahakan kebersihan kandang unggas dan semprotkan bahan-bahan disinfektan (antihama).
Mencuci tangan dengan air sabun setelah kontak dengan unggas maupun produknya.
Proteksi anak-anak dan lansia dari kontak langsung dengan unggas terutama yang terlihat sakit.
Amankan makanan dengan memasak daging dan telur unggas terlebih dahulu sebelum disantap.
Segera lapor kepada aparat berwenang jika ada unggas yang sakit atau mati mencurigakan

9. Infectious Bursal Disease (IBD)/Gumboro

 Penyebab : Genus Birnavirus, famili Birnaviridae.  

Gejala Klinis
  • lesu dan lemah. Ayam mengalami demam, depresi, diare, kotoran berwarna putih, anoreksia dan bulu kusam. Bulu di sekitar anus sangat kotor oleh feses. 
  • Ayam mematuk-matuk daerah kloaka, karena terjadi radang pada bursanya.  
  • Penurunan nafsu makan yang sangat tinggi dan diare encer yang mengandung asam urat.  Kematian yang mendadak.  
  • Kurva kematiannya sangat spesifik, yaitu kematian berlangsung selama 6 hari dengan angka kematian tertinggi hari ke 3 dan 4.
Gejala PA
  • Pada bursanya terdapat transudat gelatin yang terjadi antara 3 hingga 5 hari setelah infeksi 
  • Bursa mengalami pembesaran, oedematous, perdarahan dan mengandung reruntuhan sel. 
  • Pada awal infeksi terjadi hipertropi, kemudian diikuti terjadinya atropi pada 7 hari setelah  infeksi
  • Perdarahan pada otot dada dan paha terlihat pada ayam yang mati di atas umur 4 minggu  Ayam terinfeksi gumboro limpa, hati, timus dan ginjalnya membesar. 
  • Disamping itu, limpa mengalami kongesti, hati berwarna  lebih gelap dari warna normal.  Timus seperti pada bursa yaitu membengkak pada awal infeksi, selanjutnya mengalami atrofi.
Pengendalian
Pencegahan
    :     vaksinasi
Terapi suportif    :    - Multivitamin
       - Air gula 2%
        -     Tingkatkan nafsu minum >> kurangi dehidrasi >> selamatkan ginjal
        -     Perbaikan mutu pakan

10. TRIPANOSOMIASIS


Penyebab : protozoa Tripanosoma .  T. evansi, T. brucei.

Penularan : melalui lalat Tsetse dari genus Glossina, Tabanus dan lalat rusa (Chrysops).

Gejala klinis : edema akibat eksudasi cairan limfe dan infiltrasi limfosit. Anemia, kelemahan menahun dan kehilangan berat badan.

Gejala patologi anatomi : kelenjar limfe odematosa, hati mengalami kongesti, sumsum tulang panjang  sangat rapuh, dan terdapat pendarahan di dalam jantung, ginjal dan organ lain.

Pencegahan dan pengobatan : penyingkiran terhadap induk semang, pengobatan dengan Dimenazene aceturate (Berenil), senyawa-senyawa homidin (Novidium dan Ethidium) atau Suramin (Naganol).


Sekian, terimaksih.
Semoga membantu dan bermanfaat.


EmoticonEmoticon