Share a General Science : The Farm, Papers, Internet, Computer, Blogging.

Wednesday, December 25, 2013

LAPORAN PRAKTIKUM PENGEMBANGAN PETERNAKAN


 

PENDAHULUAN


1.1  Latar Belakang
Ayam broiler adalah jenis ayam jantan maupun betina muda berumur sekitar 6 – 8 minggu yang dipelihara secara intensif, guna memperoleh daging yang optimal. Ditinjau dari segi mutu, daging ayam memiliki nilai gizi yang tinggi dibandingkan ternak lainnya. Dan jika ditinjau dari segi ekonomis, khususnya ayam ras potong atau ayam negeri yang sudah populer dengan sebutan broiler ini, merupakan ayam negeri yang bisa diusahakan secara efisien dan cepat dalam pemanenan.
Hingga saat ini, usaha peternakan ayam broiler merupakan salah satu kegiatan yang paling cepat dan efisien untuk menghasilkan bahan pangan hewani yang bermutu dan bernilai gizi tinggi. Beberapa hal yang menjadi penyebabnya antara lain, laju pertumbuhan ayam yang lebih cepat dibandingkan dengan komoditas ternak lainnya, permodalan yang relatif lebih kecil, penggunaan lahan yang tidak terlalu luas serta kebutuhan dan kesadaran masyarakat meningkat akan kandungan gizinya. Sehingga kondisi ini menuntut adanya penyediaan daging ayam yang cukup, baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

1.2  Tujuan
  1. Untuk mengetahui cara pemeliharaan ayam broiler
  2. Untuk meningkatkan produktivitas ayam broiler
  3. Untuk menerapkan ilmu yang telah dipelajari
1.3  Waktu dan Tempat
Praktikum tentang pengembangan peternakan Unggas dilakukan pada hari selasa, tangal 10 April 2012 di Experimental Farm, Universitas Negeri Jendral Soedirman.


II. METODE PRAKTIKUM
         
2.1 Materi
     2.1.1 Alat    :          1. alat tulis
                                    2. daftar pertanyaan
     2.1.2 Bahan :          ternak unggas
2.2 Metode
     1. siapkan alat tulis dan daftar pertanyaan,
     2. kumpulkan data yang dibutuhkan didalam daftar pertanyaan dengan cara bertanya ke                                pengelola peternakan tersebut.
     3. tulis hasil wawancara dari pihak pengelola ke daftar pertanyaan dan amati.
     4. menanyakan selengkap mungkin.









III. TINJAUAN PUSTAKA

Menurut  Zainal abidin (2002) kandang  merupakan  tempat hidup, tempat berproduksi, dan berfungsi untuk melindungi ayam dari gangguan binatang buas, melindungi  ayam dari cuaca yang  tidak bersahabat, membatasi  ruang  gerak ayam, menghindari resiko kehilangan ayam, memper mudah pengawasan, pemberian pakan dan air minum, serta pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit.
Menurut Fadilah (2004), ayam pedaging adalah jenis ternak bersayap dari kelas aves yang telah didomestikasikan dan cara hidupnya diatur oleh manusia dengan tujuan untuk memberikan nilai ekonomis dalam bentuk daging.
Menurut Rasyaf (1992) ayam pedaging adalah ayam jantan dan ayam betina muda yang berumur dibawah 6 minggu ketika dijual dengan bobot badan tertentu, mempunyai pertumbuhan yang cepat, serta dada yang lebar dengan timbunan daging yang banyak. Banyak strain ayam pedaging yang dipelihara di Indonesia.
Menurut Wahju (1992), konsumsi ransum ayam pedaging tergantung pada kandungan energi ransum, strain, umur, aktivitas, serta temperatur lingkungan.
            Menurut Anggrodi (1994), menambahkan bahwa kesanggupan ternak dalam mencerna serat kasar tergantung dari jenis alat pencernaan yang dimiliki oleh ternak tersebut dan tergantung pula dari mikroorganisme yang terdapat dalam alat pencernaan.






IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
                   I.      IDENTITAS PERUSAHAAN
Nama                           : Experimental farm
Alamat                        : Desa Karangwangkal Kecamatan purwokerto
Jenis Usaha                 : Ternak Ayam Niaga Pedaging
Sejarah Berdirinya      : 2006
Struktur Organisasi     :  Koordinator             : Arteka Rosiada
                                       Sekretaris                 : Faiz Alwi Yusuf
                                       Bendahara                : Frendita QueenRendy
                                       Manager Logistic     : Wigih Yodya
                                       Manager Personalia  : Aang Burhanudin
                                       Manager Kebersihan: Danu Purwanto
                                       Manager Peralatan   : Aziz Muslim

                II.      TERNAK DAN MANAJEMEN
1.      Jumlah ternak : 3000
2.      Pengadaan bibit :
a.       Bibit yang Digunakan          : LH 500
b.      Asal Bibit                             : Malindo
c.       Harga Seekor Bibit              : Rp. 4000/ekor
d.      Sexing Menggunakan          : dari perusahaan

III.PAKAN
1.      Pakan yang digunakan       : komplit , starter dan finisher
2.      Kandungan gizi                  : protein 21%, serat 4%, air 13%, abu6%, kalsium 0,9-            1,1% , pospor 0,7-0,9%
3.      Asal bahan pakan               : Malindo
4.      Harga bahan pakan             : starter Rp. 5800 dan finisher Rp. 5750

1.      Kandang
No
Kandang
Ukuran
Kapasitas
(ekor)
Panjang (M)
Lebar (M)
1.
21
6
1000
2.
42
6
2000
2.      Tipe Atap                           : Monitor
3.      Tipe lantai kandang            : slat

III. PERHITUNGAN EKONOMI
1.      Biaya pembuatan kandang dan alat    : Rp. 50.000.000,-
2.      Daya tahan                                          : 10 tahun
3.      Harga akhir                                          : Rp. 5.000.000,-
4.      Biaya tenaga kerja                               : Rp. 200,-/ekor
5.      Biaya Brooder dan penerangan           : Rp 1.000.000,-
6.      Biaya Pakan                                        : Rp. 58.000.000,-
7.      Biaya vaksin dan obat-obatan             : Rp. 1.500.000,-
8.      Lain – lain                                           : cuci kandang Rp. 200.000,-


4.2 Pembahasan
Ayam broiler merupakan salah satu bahan makanan yang berguna untuk membantu pemenuhan kebutuhan protein hewani. Dalam pemeliharaan ayam ini diperlukan banyak persiapan yaitu antara lain
o   Kualitas Bibit
o   Sistem Pemeliharaan
o   Pakan dan Minum
o   Perkandangan
o   Manajemen Pemeliharaan
o   Penyakit
o   Vaksinasi dan Kekebalan

Ø  Kualitas Bibit
Banyak keberhasilan usaha peternakan ayam berawal dari kualitas bibit yang baik. Bibit ayam dipilih dari sumber yang diyakini terbebas dari berbagai penyakit dan kualitas bibitnya bagus sesuai dengan standar setiap strain.
Ciri-ciri bibit ayam broiler yang berkualitas bisa dilihat berdasarkan penampilan luarnya secara umum, Ada beberapa pedoman teknis untuk memilih bibit DOC, yaitu :
  • Bebas dari penyakit, terutama penyakit pullorum, omphalitis, dan jamur.
  • Berasal dari induk yang matang umur dan dari pembibitan yang berpengalaman.
  • Bibit ayam terlihat aktif, mata cerah, dan lincah.
  • Memiliki kekebalan dari induk yang tinggi.
  • Kaki besar dan basah seperti berminyak.
  • Bulu cerah, tidak kusam, dan penuh.
  • Anus bersih, tidak ada kotoran atau pasta putih.
  • Keadaan tubuh normal.
  • Berat badan sesuai standar strain, biasanya di atas 37 gram.
  • Tidak ada letakan tinja di duburnya.
Ø   Sistem Pemeliharaan
Minggu Pertama (hari ke-1-7). Kutuk/DOC dipindahkan ke indukan atau pemanas, segera diberi air minum hangat yang ditambah POC NASA dengan dosis 1 - 2 cc/liter air minum atau viterna plus dengan dosis 1 cc/liter air minum/hari dan gula untuk mengganti energi yang hilang selama transportasi. Pakan dapat diberikan dengan kebutuhan per ekor 13 gr atau 1,3 kg untuk 100 ekor ayam. Jumlah tersebut adalah kebutuhan minimal, pada prakteknya pemberian tidak dibatasi. Pakan yang diberikan pada awal pemeliharaan berbentuk butiran-butiran kecil (crumbles).
Ø   Pemberian Pakan dan Air Minum
Pemberian pakan pada anak ayam periode starter sampai finisher dilakukan dengan metode ad libitum, yaitu metode pemberian pakan dengan cara ayam makan sepuasnya atau tidak terbatas. Tempat pakan yang digunakan pada umur 0-7 hari berbentuk nampan. Pemberian pakan anak ayam sampai umur 1 minggu dilakukan sesering mungkin ± 6-8 kali / hari tergantung habisnya pakan dalam chick feeder tray. Setelah ayam berumur 7 hari tempat pakan yang digunakan sebagian diganti dengan tempat pakan yang berbentuk bundar dan digantung (hanging feeder). Menurut Abibin (2002) ketinggian tempat pakan dan tempat air minum 2–2,5 cm di atas permukaan punggung ayam. Kapasitas tempat pakan 1 buah untuk 20-25 ekor ayam.
S              Secara garis besar, zat-zat makanan yang dibutuhkan ayam terdiri dari protein, energy, vitamin, mineral, dan air. Protein merupakan gabungan dari asam amino. Protein ini berguna untuk membangun jaringan tubuh yang baru, menggantikan bagian-bagian tubuh yang rusak, pembentukan cairan tubuh, pembentukan bulu. Bahan makanan yang merupakan sumber protein, misalnya tepung ikan, serangga, sisa-sisa daging, bungkil kelapa, bungkil kacang dan lain-lain.
·                     Zat makanan kedua yang sangat penting adalah energy. Energy ini dibutuhkan untuk segala aktivitas, antara lain untuk detak jantung, mengedarkan darah, dan kemampuan ayam berjalan.
    Berbeda dengan protein, maka bila energy berlebih akan disimpan dalam bentuk lemak. Bahan makanan yang merupakan sumber energy adalah minyak bekatul, bungkil kacang, bungkil kelapa, dan lain-lain. Air merupakan bagian terbesar dari tubuh makhluk, demikian juga dengan ayam. Bahan makanan juga mengandung sebagian besar air. Air diperoleh ayam melalui tiga cara yaitu air yang diminum, air yang berada dalam makanan, dan air metabolis.
Dari semua zat makanan dengan sumber bahannya dinamakan ransum. Jadi pengertian ransum adalah campuran bahan makanan untuk memenuhi kebutuhan akan zat-zat makanan yang seimbang dan tepat (Sastrapradja, 1980).
 Pemberian minum disesuaikan dangan umur ayam, dalam hal ini dikelompokkan dalam 2 (dua) fase yaitu:
  1. Fase starter (umur 1-29 hari) kebutuhan air minum terbagi lagi pada masing-masing minggu, yaitu minggu ke-1 (1-7 hari) 1,8 lliter/hari/100 ekor; minggu ke-2 (8-14 hari) 3,1 liter/hari/100 ekor; minggu ke-3 (15-21 hari) 4,5 liter/hari/100 ekor dan minggu ke-4 (22-29 hari) 7,7 liter/hari/ekor.
    Jadi jumlah air minum yang dibutuhkan sampai umur 4 minggu adalah sebanyak 122,6 liter/100 ekor. Pemberian air minum pada hari pertama hendaknya diberi tambahan gula dan obat anti stress kedalam air minumnya. Banyaknya gula yang diberikan adalah 50 gram/liter air.
  2. Fase finisher (umur 30-57 hari), terkelompok dalam masing-masing minggu yaitu minggu ke-5 (30-36 hari) 9,5 lliter/hari/100 ekor; minggu ke-6 (37-43 hari) 10,9 liter/hari/100 ekor; minggu ke-7 (44-50 hari) 12,7 liter/hari/100 ekor dan minggu ke-8 (51-57 hari) 14,1 liter/hari/ekor. Jadi total air minum 30-57 hari sebanyak 333,4 liter/hari/ekor.


Ø  Perkandangan
Sebelum kegiatan pemeliharaan ayam berlangsung, terlebih dahulu kandang dan peralatan yang akan digunakan harus dipersiapkan dengan baik. Tujuan dari persiapan kandang ini sendiri yaitu untuk memberikan rasa nyaman pada ayam ketika ayam mulai masuk, serta supaya terhindar dari gangguan penyakit.
Pembersihan atap dan lantai kandang dilakukan setelah pemanenan ayam selesai. Pembersihan atap dilakukan dengan membersihkan debu dan sarang laba-laba yang ada dilangit-langit kandang dengan menggunakan sapu bergagang panjang. Pembersihan lantai dimulai dengan menyemprotkan air ke permukaan lantai kemudian didiamkan selama beberapa jam, dengan tujuan agar kotoran yang menempel dapat dengan mudah dibersihkan. Setelah didiamkan selama beberapa jam, lantai digosok dengan menggunakan lap yang bergagang sambil disemprot dengan air sampai bersih.  
Jenis kandang berdasarkan lantainya dibagi menjadi tiga macam yaitu: 1) kandang dengan lantai liter, kandang ini dibuat dengan lantai yang dilapisi kulit padi, pesak/sekam padi dan kandang ini umumnya diterapkan pada kandang sistem koloni; 2) kandang dengan lantai kolong berlubang, lantai untuk sistem ini terdiri dari bantu atau kayu kaso dengan lubang-lubang diantaranya, yang nantinya untuk membuang tinja ayam dan langsung ke tempat penampungan; 3) kandang dengan lantai campuran liter dengan kolong berlubang, dengan perbandingan 40% luas lantai kandang untuk alas liter dan 60% luas lantai dengan kolong berlubang (terdiri dari 30% di kanan dan 30% di kiri).
(Rasyaf, 1994)
Ø  Manajemen Pemeliharaan
Manajemen pemeliharaan juga sangat berpengaruh terhadap berat badan unggas. Oleh sebab itu, seorang peternak harus menguasai sistem pemeliharaan unggas dari sistem perkandangan sampai sistem pencatatannya. Manajemen yang buruk akan menyebabkan berat badan merosot.


Penyakit
Ada macam-macam penyakit dalam pemeliharaan ayam broiler, antara lain:
1. Berak putih (pullorum)
    Menyerang ayam kampung dengan angka kematian yang tinggi.
    Penyebab: Salmonella pullorum.
    Pengendalian: diobati dengan antibiotika
2. Foel typhoid
               Sasaran yang disering adalah ayam muda/remaja dan dewasa.
               Penyebab: Salmonella gallinarum.
               Gejala: ayam mengeluarkan tinja yang berwarna hijau kekuningan.
               Pengendalian: dengan antibiotika/preparat sulfa.
3. Parathyphoid
               Menyerang ayam dibawah umur satu bulan.
               Penyebab: bakteri dari genus Salmonella.
               Pengendalian: dengan preparat sulfa/obat sejenisnya.
4. Kolera
               Penyakit ini jarang menyerang anak ayam atau ayam remaja tetapi selain menyerang  
     ayam menyerang kalkun dan burung merpati.
               Penyebab: pasteurella multocida.
               Gejala: pada serangan yang serius pada gelambir akan membesar.
               Pengendalian: dengan antibiotika (Tetrasiklin/Streptomisin).
5. Pilek ayam (Coryza)
               Menyerang semua umur ayam dan terutama menyerang anak ayam.
               Penyebab: makhluk intermediet antara bakteri dan virus.
               Gejala: ayam yang terserang menunjukkan tanda-tanda seperti orang pilek.
               Pengendalian: dapat disembuhkan dengan antibiotia/preparat sulfa.
6. CRD
               CRD adalah penyakit pada ayam yang populer di Indonesia.
    Menyerang anak ayam dan ayam remaja.
    Pengendalian: dilakukan dengan antibiotika (Spiramisin dan Tilosin).
7. Infeksi synovitis
               Penyakit ini sering menyerang ayam muda terutama ayam broiler dan kalkun.
               Penyebab: bakteri dari genus Mycoplasma.
               Pengendalian: dengan antibiotika.

Ø  Vaksinasi dan Kekebalan
Kekebalan yang dibentuk oleh tubuh ayam ada dua yaitu kekebalan humoral atau menyeluruh, di mana zat kebal ada dalam aliran darah dan kekebalan lokal dengan zat kebal terdapat pada bagian tubuh yang pernah diserang penyakit. Kekebalan lokal dapat merupakan senjata untuk menghadapi serangan bibit penyakit. Tapi, kemampuannya hanya dapat membunuh bibit penyakit ditempat di mana ada zat kebal, misalnya di saluran pernafasan, maka infeksi tidak terjadi pada saluran pernafasan tersebut. Sementara, pada bagian tubuh yang lain yang tidak terdapat zat kebal, memungkinkan terpapar bibit penyakit.
Vaksin merupakan mikroorganisme bibit penyakit yang telah dilemahkan virulensinya atau dimatikan dan apabila diberikan pada ternak tidak menimbulkan penyakit melainkan dapat merangsang pembentukan zat kebal yang sesuai dengan jenis vaksinnya. Sedang vaksinasi merupakan tindakan memasukkan vaksin ke dalam tubuh ternak dan merupakan suatu usaha dengan tujuan melindungi ternak terhadap serangan penyakit tertentu. Bagi peternak, vaksinasi sudah merupakan kegiatan rutin dalam usaha peternakannya, vaksinasi yang dilakukan peternak dengan cara tetes mata, tetes hidung, air minum dan spray akan merangsang badan ayam untuk membentuk kekebalan lokal, sedangkan pelaksanaan vaksinasi dengan injeksi atau suntikan akan merangsang pembentukan kekebalan humoral atau menyeluruh.




V. PENUTUP

5.1 Kesimpulan
1.      Dalam pemeliharaan ayam broiler diperlukan banyak persiapa yaitu antara lain,       pemilihan kualitas bibit, pakan dan minum, manajemen pemeliharaan, sistem pemeliharaan, perkandangan, penyakit dan vaksinasi.
2.      Terdapat banyak penyakit yang menyerang ayam broiler serta penanganannya, misal penyakit CDR, Kolera, berak kapur dll.
3.      Dalam pemeliharaan ayam broiler terdapat 2 (Dua) fase yaitu, fase starter dan fase Finisher


EmoticonEmoticon