Share a General Science : The Farm, Papers, Internet, Computer, Blogging.

Tuesday, April 21, 2015

MAKALAH MANAJEMEN TERNAK POTONG “ MANAJEMEN PEMELIHARAAN”



MAKALAH MANAJEMEN TERNAK POTONG

“ MANAJEMEN PEMELIHARAAN”








 

LABORATORIUM TERNAK POTONG
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PURWOKERTO
2013



     I.            PENDAHULUAN



1.1. Latar belakang

Ternak potong merupakan salah satu penghasil daging yang memiliki nilai gizi serta nilai ekonomi yang tinggi. Sejalan dengan meningkatnya jumlah penduduk, kebutuhan akan konsumsi daging di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Peluang usaha beternak sapi potong sangat menjanjikan karena dengan melihat meningkatnnya permintaan bahan makanan yang berasal dari hewan sebagai sumber protein hewani khususnya daging.

Pertumbuhan ternak potong meliputi pertumbuhan pre natal dan post natal. Pertumbuhan pre natal adalah pertumbuhan yang terjadi atau berlangsung di dalam kandungan induk dan pertumbuhan post natal adalah pertumbuhan yang terjadi atau berlangsung mulai ternak dilahirkan sampai mati.

Usaha ternak sapi potong dapat dikatakan berhasil bila telah memberikan kontribusi pendapatan dan dapat memenuhi kebutuhan hidup peternak sehari-hari, Agar usaha ternak sapi potong menghasilkan sapi berkualitas, peternak harus meningkatkan keterampilan dan pengetahuan mereka dalam beternak sapi potong, antara lain memilih bibit/bakalan yang baik, sistem pemeliharaan, pemberian pakan yang baik, dan pengawasan terhadap kesehatan ternak. Hal inilah yang melatar belakangi diadakannya praktek lapang produksi ternak potong  mengenai Tatalaksana Pemeliharaan Sapi Potong.

             
II.            PEMBAHASAN


2.1. Sistem Pemeliharaan

Pemeliharaan persiapan yang harus dilakukan sebelum memulai memelihara ternaksapi potong adalah membersihkan kandang dengan desinfeksi. Demikian juga dalam penggunaan alat harus memenuhi baik faktor higienis, keamanan ternak maupun efisiensi (Anonima, 2012).

Induk yang sedang bunting sama dengan sapi yang sedang berproduksi, membutuhkan makanan yang cukup mengandung protein, mineral dan vitamin. Induk bunting harus dipisahkan dengan kelompok sapi yang tidak bunting dan pejantan. Semua induk bunting hendaknya dikumpulkan menjadi satu. Apabila sudah dekat masa melahirkan harus dipisahkan di kandang tersendiri yang bersih, kering, dan terang. Lantai kandang harus diberi alas, misalnya dengan jerami atau rumput (Anonima, 2012).

Jika “pedet” (anak sapi umur 0 – 8 bulan) telah lahir, semua lendir yang menyelubungi tubuh. Sewaktu membersihkan lendir pada tubuh, peternak harus menekan-nekan dada pedet untuk merangsang pernapasan. Selanjutnya tali pusar dipotong, disisakan sepanjang 10 cm dan diberi desinfektan dengan yodium tincture 10 persen. Tiga puluh menit sesudah lahir, biasanya pedet sudah mulai bisa berjalan dan menyusu pada puting induk. Tempat dimana pedet itu berbaring harus diberi alas jerami atau rumput kering yang bersih dan hangat (Anonima, 2012) .

Menurut (Anonimb 2010), ada 3 cara pemeliharaan sapi antara lain  sebagai berikut :

1.       Pemeliharaan Secara Ekstensif

Pemeliharaan sapi secara ekstensif biasanya terdapat di daerah-daerah yang mempunyai padang rumput yang luas, seperti di Nusa tenggara, Sulawesi selatan, dan Aceh. Sepanjang hari sapi digembalakan di padang penggembalaan, sedangkan pada malam hari sapi hanya dikumpulkan di tempat-tempat tertentu yang diberi pagar, disebut kandang terbuka.

2.       Pemeliharaan Secara Intensif

Pemeliharaan secara intensif yaitu ternak dipelihara secara terus menerus di dalam kandang sampai saat dipanen sehingga kandang mutlak harus ada. Seluruh kebutuhan sapi disuplai oleh peternak, termasuk pakan dan minum. Aktivitas lain seperti memandikan sapi juga dilakukan serta sanitasi dalam kandang.

3.       Pemeliharaan Secara Semi Intensif

Pemeliharaan sapi secara semi intensif merupakan perpaduan antara kedua cara pemeliharaan secara ekstensif. Jadi, pada pemeliharaan sapi secara semi intensif ini harus ada kandang dan tempat penggembalaan dimana sapi digembalakan pada siang hari dan dikandangkan pada malam hari.

2.2. Perkandangan

2.2.1.      Syarat Kandang

Kandang  merupakan salah satu unsur penting dalam suatu usaha peternakan, terutama dalam penggemukan ternak potong. Bangunan kandang yang baik harus bisa memberikan jaminan hidup yang sehat dan nyaman. Bangunan kandang diupayakan pertama-tama untuk melindungi sapi terhadap gangguan dari luar yang merugikan, baik dari sengatan matahari, kedinginan, kehujanan dan tiupan angin kencang. Selain itu, kandang juga harus bisa menunjang peternak dalam melakukan kegiatannya, baik dari segi ekonomi maupun segi kemudahan dalam pelayanan. Kandang berfungsi sebagai lokasi tempat pemberian pakan dan minum. Dengan adanya kandang, diharapkan sapi tidak berkeliaran di sembarang tempat, mudah dalam pemberian pakan dan kotorannya pun bisa dimanfaatkan seefisien mungkin (Anonimc, 2012).

2.2.2.      Kontruksi Kandang

Konstruksi kandang harus kuat serta terbuat dari bahan- yang ekonomis dan mudah diperoleh. Di dalam kandang harus ada drainase dan saluran pembuangan Iimbah yang mudah dibersihkan. Tiang kandang sebaiknya dibuat dari kayu berbentuk bulat agar Iebih tahan lama dibandingkan dengan kayu berbentuk kotak. Selain itu, kayu bulat tidak akan melukai tubuh sapi, berbeda dengan kayu kotak yang memiliki sudut tajam (Wello, 2011).

2.2.3.      Tinggi Kandang

Kandang di daerah yang mempunyai suhu lingkungan agak panas (dataran rendah dan pantai) hendaknya dibangun lebih tinggi dari pada kandang yang ada di daerah pegunungan. Hal ini dimaksudkan agar udara panas di dalam ruangan kandang lebih bebas bergerak atau berganti sehingga dapat diperoleh ruang kandang cukup sejuk (Wello, 2011).

2.2.4.      Kerangka Kandang

Terbuat dari bahan besi, besi beton, kayu dan bambu disesuaikan dengan tujuan dan kondisi yang ada. Pemilihan bahan kandang hendaknya disesuaikan dengan kemampuan ekonomi dan tujuan usaha (Wello, 2011).

2.2.5.       Lantai kandang

Lantai kandang sebagai batas bangunan kandang bagian bawah, atau tempat berpijak dan berbaring bagi sapi pada sepanjang waktu, maka pembuatan lantai kandang harus benar-benar memenuhi syarat : rata, tidak licin, tidak mudah menjadi lembab, tahan injakan, atau awet (Wello, 2011).

2.2.6.      Tempat Pakan dan Air Minum

Bagian kandang yang juga harus diperhatikan adalah tempat pakan dan air minum. Tempat/bak pakan dapat dibuat dengan ukuran panjang 60 cm, lebar 50 cm dan dalamnya 30 cm untuk setiap ekor dewasa. Tempat pakan diperlukan untuk efisiensi dan efektifitas pakan yang diberikan. Biaya pakan akan membengkak jika pakan yang diberikan tidak habis dimakan ternak tetapi hanya berserakan didalam maupun luar kandang.

Tempat air minum diperlukan untuk memenuhi kebutuhan minum ternak dan menghindari tumpahnya air jedalam kandang. Syarat tempat pakan dan air minum adalah:

·         Mudah dijangkau mulut ternak tetapi tidak bisa terinjak.

·         Mampu menampung jumlah pakan/air yang diperlukan ternak sampai pemberian pakan/air berikutnya.

·         Tidak mudah digerak-gerakkan ternak sehingga pakan/air minum yang ada tidak tumpah. Khusus tempat air minum, tidak boleh bocor sehingga mengairi kandang. (Anonimc, 2012).

2.2.7.      Model Kandang

Menurut Purnomoadi, (2003) ada 2 model kandang sapi, yakni kandang bebas (loose housing) dan kandang konvensional (conventional/stanchion barn).

1.      Kandang Bebas

Kandang bebas merupakan barak atau areal yang cukup luas dengan atap diatasnya. Kandang ini ditempati populasi sapi tanpa adanya batasan sedikit pun. Sapi dapat bergerak bebas kemana saja selama masih ada didalam area kandang. Kandang bebas hanya terdiri dari satu bangunan atau ruangan, tetapi digunakan untuk ternak dalam jumlah banyak, Sebuah kandang bebas yang berukuran 7m X 9m dan dapat menampung 20-25 ekor sapi.

2.      Kandang konvensional

Posisi ternak yang dipelihara di dalam kandang dibuat sejajar, lazim disebut sistem stall. Susunan stall ada tiga macam yaitu stall tunggal, stall ganda tail to tail, dan stall face to face.

Ø  Stall tunggal

Pada kandang stall tunggal, sapi ditempatkan satu baris dengan kepala searah. Bentuk ini tepat untuk jumlah ternak yang tidak lebih dari 10 ekor.

Ø  Stall ganda tail to tail

Sapi pada kandang Stall ganda tail to tail ditempatkan dua baris sejajar (stall ganda) dengan gang di tengah, sedangkan kepala ternak berlawanan arah atau ekor saling berhadapan (tail to tail).

Ø  Stall ganda face to face

Model kandang ini mendesain sapi pada dua baris sejajar dengan gang di tengah dengan kepala ternak saling berhadapan (face to face). Gang di tengah agak lebar.

2.2.8.      Peralatan Kandang

Menurut (Anonimd, 2012) dalam kegiatan pemeliharraan ternak, dibutuhkan peralatan untuk keperluan di dalam kandang. Peralatan hendaknya selalu dalam keadaan bersih, adapun peralatan kandang yang diperlukan antara lain sebagai: Ember, digunakan untuk mengangkut air, pakan penguat, dan memandikan ternak. Sebaiknya ember terbuat dari bahan antikarat, seperti ember plastik.

2.3. Pemeliharaan pedet

Pada  umumnya  bila  anak  sapi  itu dalam keadaan normal, maka akan menyusu pada induknya 30 menit setelah lahir. Bila anak sapi tidak dapat menyusu sendiri maka hendaknya dibantu menyusukan kepada induknya. Hal ini perlu sebab anak sapi tersebut harus mendapat kolostrum dari induknya.

Pada umumnya anak sapi dibiarkan bersama-sama induknya selama 24 jam sampai 48 jam setelah lahir, sesudah itu baru anak sapi dipisahkan dari induknya dan ditempatkan di kandang  anak sapi. Tujuannya adalah agar anak sapi mendapat cukup kolostrum yang mempunyai suhu yang sama dengan induknya. Anak sapi yang menyusu langsung pada induknya akan memberikan rangsangan pada ambing  induknya  untuk  nantinya mudah diperah. Dalam pemberian air susu pada anak sapi, hendaknya air susu itu diambil dari susu induknya untuk beberapa hari. Setelah 5-7 hari susu dari induk lain dapat diberikan pada anak sapi tersebut. Bila induk mati atau tidak dapat memberikan kolostrum pada anaknya  dapat diberi pengganti kolostrum sebagai berikut: 1 butir telur dikocok dengan 300 cc air hangat dicampur dengan  1 sendok teh castrol oil dan 600 cc susu murni. Diberikan  3  kali  sehari selama  4  hari. Ditambah antibiotika. Antibiotika untuk anak sapi: per os 250 mg  chlortetracycline tiap hari selama 5 hari, setelah itu 125 mg chlortetracycline selama 16 hari, yang terbaik sesudah lahir disuntik 200 ml tetracycline (ackromycine) intra muscular. (Wello, 2011).

2.4. Pengebirian (Kastrasi)

Kastrasi adalah usaha mematikan sel kelamin gengan jalan operasi dan mengikat atau memutus saluran sperma ataupun memasukkan bahan kimia dengan cara injeksi agar alat reproduksi tidak berfungsi. Tujuannya adalah Supaya sapi lebih jinak, mudah dikuasai, mutu daging dan laju pertumbuhan meningkat. Manfaatnya adalah sapi yang memiliki sifat jelek tidak akan menurunkan atau mengembangkan sifat jelek sehingga secara ekonomis lebih menguntungkan.

1.      Metode Kastrasi:

Ø  Kastrasi dengan elastrator (karet gelang)          (umur < 1mgg)

Ø  Kastrasi dengan cara operasi (1-4 bulan)

Ø  Kastrasi dengan “tang Burdizzo” (semua umur)

(Wello, 2011)

2.5. Pemotongan Tanduk (Dehorning)

Dehorning yaitu mematikan calon tanduk sebelum tumbuh memanjang atau memotong tanduk yang sudah terlanjur tumbuh panjang. Tujuannya adalah untuk menghindarkan bahaya penandukan    terhadap peternak ataupun sesama ternak.

Metode dehorning :

  1. Menggunakan bahan kimia

Bahan kimia yang digunakan adalah caustic soda dalam bentuk pasta atau batangan seperti lilin. cara ini sering dilakukan pada pedet sebelum umur 2 minggu (3-10 hari). Caranya sebagai berikut :

·         bersihkan /gunting bulu disekitar tanduk, kemudian olesi vaselin.

·         oleskan / gosokkan caustic soda pada dasar   calon    tanduk hingga muncul bintik-bintik darah.

2.      Dehorning dengan besi panas

Alat ini menggunakan listrik atau sumber panas lain yang dipakai untuk mematikan/menghilangkan tanduk, terutama untuk pedet muda (1 bulan). Caranya sebagai berikut :

·         Tempelkan besi panas tersebut pada tunas tanduk selama 10-20 detik.

3.      Dehorning dengan gergaji

Cara ini hanya dilakukan pada sapi-sapi dewasa yang tanduknya sudah keras dan panjang. Caranya adalah :

·         gergaji halus dan tajam

·         sapi harus diikat kuat 

·         pemotongan dilakukan dengan menyisakan pangkal tanduk 1-2 cm.

·         diusahakan dilakukan oleh peternaknya sendiri (Wello, 2011).

2.6. Pemberian Tanda Pengenal (marking)

Tujuan marking yaitu untuk mempermudah melakukan seleksi, mempermudah recording, mempermudah melakukan tatalaksana : perkawinan, pemberian makanan, dan lain sebagainya. Macam-macam tanda pengenal :

1.      Ear-tag adalah tanda pengenal berupa anting yang berasal dari bahan plastik atau logam yang situ tertera angka atau huruf sebagai kode dan dipasang pada telinga.

2.      Ear-notching (kerat) : yaitu pemberian tanda pengenal yang dilakukan dengan cara melukai atau mengerat bagian tepi telinga, setiap keratan mengandung maksud dengan kode tertentu seperti nomor.

3.      Ear Tatooing : EarTatooing adalah tanda pengenal dengan cara melukai bagian kulit, baik pada telinga, pantat ataupun bagian yang lain. Caranya yaitu

·         Bagian yang akan di tatoo dibersihkan menggunakan spirtus / alkohol.

·         jepitkan alat tatoo trsebut kemudian olesi tinta dan di gosok supaya bekas luka dapat terbaca.

4.      Neck Straps Chain / Peneng : yaitu tanda pengenal dari logam atau kulit yang sudah diberi kode berupa huruf atau angka dikaitkan dengan tali atau rantai yang dipasang pada leher sapi.

5.      Fotografi : Yaitu pemberian tanda pada ternak dengan cara menggambar atau memfoto ternak pada berbagai posisi; bagian depan, belakang, samping kiri dan kanan terutama yang mempunyai ciri-ciri khusus (Wello, 2011).



III.            KESIMPULAN



1.      Sistem Pemeliharaan ada tiga yaitu : Pemeliharaan Secara Ekstensif, Pemeliharaan Secara Intensif, Pemeliharaan Secara Semi Intensif.

2.      Model Kandang ada dua yaitu : Kandang Bebas dan Kandang konvensional.

3.      Dalam pemberian air susu pada anak sapi, hendaknya air susu itu diambil dari susu induknya untuk beberapa hari

4.      Metode Kastrasi ada tiga yaitu Kastrasi dengan elastrator, Kastrasi dengan cara operasi, dan Kastrasi dengan “tang Burdizzo”.

5.      Pemotongan Tanduk (Dehorning) ada tiga metode : Dehorning bahan kimia, Dehorning dengan besi panas dan  Dehorning dengan gergaji.

6.      Macam-macam tanda pengenal : Ear-tag, Ear-notching (kerat), Ear Tatooing, Neck Straps Chain / Peneng dan Fotografi.

DAFTAR PUSTAKA



Anonima. 2010. Produksi Ternak Potong dan Kerja. Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin, Makassar.

Anonimb. 2010. Pemeliharaan Sapi Potong. http://suarakomunitas.net. (Diakses pada 23Oktober 2012).

Anonimc. 2010. Sistem Pemberian Pakan Sapi Potong. http://agromaret.com. (Diakses pada 23 Oktober 2012).

Anonimd. 2010. Teknik Pemeliharaan Sapi Peluang Usaha Sapi Potong. http://binaukm.com/2010/05. (Diakses tanggal 23 Oktober 2012).

Purnomoadi, Agung. 2003. Diktat Kuliah Ilmu Ternak Potong dan Kerja. Fakultas Peternakan. Universitas Diponegoro, Semarang.

Wello, Basit. 2011. Manajemen Ternak Sapi Potong. Masagena Press. Makassar.



EmoticonEmoticon