Share a General Science : The Farm, Papers, Internet, Computer, Blogging.

Thursday, June 4, 2015

MAKALAH MANAJEMEN KESEHATAN SAPI POTONG UNSOED

 MAKALAH
MANAJEMEN KESEHATAN SAPI POTONG








  




Oleh:

Nama: Prayoga Indrawardhana B
Nim   : D0A011027


                                        





KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
PROGRAM STUDI DIII PROTER
FAKULTAS PETERNAKAN
PURWOKERTO
2013





I. PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang
Potensi sapi potong di Indonesia sangat menjanjikan, dengan keadaan tanah yang subur sehingga pakan berupa hijauan yang merupakan kebutuhan sapi seharusnya juga lebih mudah didapatkan. Peternakan sapi telah dikenal sejak lama sebagai usaha sampingan masyarakat Indonesia, akan tetapi baru sedikit yang benar benar mengelolanya sebagai lahan usaha ataupun bisnis. Rata-rata penduduk memelihara sapi potong hanya sebagai harta simpanan saja, padahal potensi peternakan sapi itu sendiri bila dikelola secara baik dan benar sangat besar.
Hal yang perlu mendapatkan perhatian khusus selain pakan , kandang dan tata cara pemeliharaan yang berkaitan dengan kesuksesan ternak sapi potong adalah selalu menjaga kesehatan ternak. Kontrol kesehatan sapi yang baik adalah langkah penting dalam beternak sapi potong. Pengendalian berbagai penyakit menular pada sapi adalah hal yang perlu mendapatkan perhatian, sebagaimana kita tahu bahwa pengendalian penyakit jauh lebih baik daripada pengobatan. Kesehatan ternak sangat berpengaruh pada produksi sapi tersebut , jika peternak selalu menjaga ternaknya dalam kondisi yang sehat maka produksinya pun akan optimal dan jika sebaliknya peternak tidak menjaga ternaknya produktifitasnya akan menurun akibatnya terjadi kerugian pada peternak.


II. PEMBAHASAN
Kesehatan hewan merupakan suatu status kondisi tubuh hewan dengan seluruh sel yang menyusunnya dan cairan tubuh yang dikandungnya secara fisiologis berfungsi normal. MANAJEMEN KESEHATAN TERNAK : proses perencanaan, pengorganisasian, dan pengendalian faktor-faktor produksi melalui optimalisasi sumber daya yang dimilikinya agar produktivitas ternak dapat dimaksimalkan, kesehatan ternak dapat dioptimalkan dan kesehatan produk hasil ternak memiliki kualitas kesehatan sesuai dengan standar yang diinginkan.
2.1 Karakteristik ternak sehat dan sakit
   Untuk mengetahui ternak sapi dalam kondisi sehat, perlu dipahami karakteristik dan tingkah lakunya, antara lain :
a.       Nafsu makan normal
b.      Agresif
c.       Istirahat dengan tenang
d.      Pergerakan tidak kaku
e.       Keadaan mata, selaput lendir dan warna kulit normal
f.       Pengeluaran feses dan urin tidak sulit dengan warna dan konsistensinya normal
g.      Tidak terdapat gangguan dalam bernafas, denyut nadi dan suhu tubuh (suhu rektal berkisar antara 38,0 – 39,30C dengan rata-rata 38,60C)
     Tanda-tanda yang memberikan indikasi bahwa ternak sakit dan ciri-cirinya dapat diamati, antara lain :
a.         Terjadinya pengeluaran lendir atau cairan yang tidak normal dari mulut, hidung dan mata.
b.        Menurunnya konsumsi pakan atau air minum, bahkan sama sekali tidak mau makan.
c.         Terjadinya kelainan postur tubuh, sulit berdiri, berjalan atau bergerak.
d.        Gelisah yang berlebihan, batuk atau bersin, diare, feses atau urin berlendir atau berdarah.
e.         Abnormalnya suhu tubuh, denyut nadi atau pernafasan.
f.         Pertambahan bobot badan menurun.
2.2 Penyebab penyakit                                                  
Suatu hal yang mungkin agak menyulitkan adalah ternak yang sakit, seringkali baru diketahui hanya beberapa jam saja setelah sebelumnya ternak tersebut tampak sehat. Terdapat beberapa faktor yang dapat menyebabkan ternak menjadi sakit, yaitu mikroorganisme, parasit, kecelakaan, cacat bawaan dan nutrisi.
Mikroorganisme terdiri dari bakteri, virus, protozoa dan kapang yang semuanya dapat menimbulkan penyakit infeksi pada sapi. Penggunaan desinfektan, perlakuan pemanasan dan pengeringan cukup efektif untuk membunuh beberapa spesies bakteri. Membersihkan kotoran ternak yang lebih sering serta membersihkan dan mendesinfektan peralatan atau fasilitas dan sanitasi lainnya akan mencegah beberapa penyakit bakteri. Vaksinasi sangat penting dilakukan untuk mencegah penyakit yang disebabkan oleh spora bakteri. Pemberian antibiotik dan obat-obatan lain efektif untuk mengobati ternak yang terkena penyakit akibat bakteri.
Virus merupakan mikroorganisme yang paling kecil dan mampu menyebabkan panyakit pada ternak. Virus tidak dapat dilihat dengan mikroskop biasa. Virus dapat menular pada sel hidup yang lain serta tumbuh dan berkembang biak. Penyebaran virus sangat cepat sehingga penyakit yang disebabkan oleh virus mudah menular pada ternak yang lain.
Parasit adalah organisme yang hidupnya bergantung pada organisme lain. Parasit adalah penyebab penyakit yang paling luas pada ternak. Sebagian besar ternak pernah terinfeksi oleh satu atau beberapa parasit, misalnya parasit internal (cacing), parasit eksternal (kutu, caplak, tengu/mites) atau kedua-duanya selama ternak hidup. Pemeriksaan rutin pada ternak perlu dilakukan dan segera diberi insektisida yang sesuai (untuk parasit eksternal) serta adanya program sanitasi yang baik untuk membantu mencegah masalah parasit ini.
Luka, lebam, keseleo, patah tulang dan kecelakaan lain dapat berakibat besar pada keseluruhan kesehatan dan produktivitas ternak. Luka kecil seringkali menjadi masalah serius bila terjadi infeksi penyakit dan keseleo akan menghambat gerakan ternak untuk mendapatkan pakan. Ternak yang tidak cukup mendapat pakan, ADG, efisiensi pakan dan produksinya akan menurun.
Masalah kesehatan sapi juga dapat disebabkan oleh tidak cukupnya nutrisi yang masuk ke dalam tubuh ternak. Ternak tidak akan tumbuh maksimal bila pakan kurang baik atau kurang menerima nutrisi seperti protein, KH, LK, vitamin, mineral dan air yang tidak seimbang. Tidak cukupnya nutrisi dapat mengakibatkan penyakit seperti grass tetany, milk fever, ketosis, white muscle dissease. Selain itu pakan yang kurang akan menimbulkan masalah parasit, gangguan pencernaan, kegagalan reproduksi dan penurunan produksi.
2.3 Mencegah serangan dan penularan penyakit
     Walaupun Indonesia sampai saat ini masih dinyatakan terbebas dari berbagai penyakit menular yang bersifat zoonosis (bisa menular pada manusia) seperti penyakit PMK, tetapi tetap harus melakukan berbagai upaya pencegahan, antara lain :
2.3.1  Menggunakan kandang karantina
        Sapi-sapi yang baru didatangkan dari luar sebaiknya dimasukkan ke dalam kandang karantina sebelum dimasukkan ke kandang pemeliharaan. Di kandang tersebut, sapi-sapi diobservasi untuk mencegah penularan penyakit dari sapi yang baru datang ke sapi yang sudah lama berada di lokasi usaha peternakan.
         Di kandang karantina, sapi-sapi pendatang baru juga akan menjalani proses adaptasi dengan lingkungan baru, biasanya selama 7 – 10 hari. Selama 7 hari pertama sapi sebaiknya diberi vitamin dan obat cacing. Kandang karantina juga dipakai untuk memisahkan sapi-sapi yang sakit dari sapi sehat. Tujuannya untuk mencegah penularan penyakit yang bisa berakibat fatal pada sapi sehat.
2.3.2   Melarang impor sapi atau daging sapi dari negara yang tidak bebas PMK
Salah satu masalah yang saat ini sedang dihadapi Indonesia adalah adanya impor daging ilegal dari India. Seperti diketahui, India adalah negara yang belum bebas dari penyakit mulut dan kuku. Karena itu impor daging ilegal dari India bisa menyebabkan berjangkitnya penyakit tersebut di Indonesia. Untuk itu diharapkan pemerintah dapat bertindak tegas terhadap para penyelundup yang hanya berorientasi pada keuntungan semata, tanpa mempertimbangkan faktor kesehatan msyarakat.
2.3.3        Vaksinasi berkala
Beberapa penyakit pada sapi potong yang disebabkan oleh virus saat ini sudah bisa dicegah dengan vaksinasi. Misalnya Anthrax, Jembrana dan Septicaemia epizootica. Khusus untuk sapi-sapi induk yang dipelihara untuk menghasilkan bakalan, vaksin biasanya diberikan secara berkala setiap 6 bulan atau satu tahun sekali. Pemberian vaksin dimulai ketika sapi masuk lokasi usaha peternakan. Sementara itu, untuk sapi bakalan yang hanya dipelihara dalam waktu singkat (kurang dari 6 bulan), program vaksinasi cukup diberikan satu kali.
2.3.4        Pemberian obat cacing secara berkala
Pada saat sapi-sapi mulai dimasukkan ke dalam kandang untuk digemukkan, obat cacing sudah harus diberikan untuk mencegah pemborosan pakan. Untuk sapi bakalan, obat cacing cukup diberikan pada saat pertama kali sapi masuk kandang, sedangkan pada induk penghasil bakalan sebaiknya obat cacing diberikan secara berkala setiap 6 bulan sekali.
2.2.5        Menjaga kebersihan lingkungan
Setiap kali terjadi pergantian sapi, sebaiknya kandang dibersihkan dengan desinfektan. Apabila air melimpah, kandang dapat dibersihkan setiap hari, termasuk juga memandikan sapi. Pembersihan kotoran dapat dilakukan 2 – 3 kali sehari.Tingkat sanitasi lingkungan dan higienis merupakan indikator kebaikan manajemen kesehatan ternak. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu :
a.       Sanitasi lingkungan yang terbaik adalah terjaganya kebersihan. Penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme dan parasit akan lebih mudah berkembang biak pada lingkungan yang kotor.
b.      Keadaan yang harus suci hama pada peralatan operasional yang digunakan dalam tatalaksana sehingga menjamin kesehatan ternak.
c.       Menggunakan beberapa desinfektan. Desinfektan harus efektif menyerang mikroorganisme secara luas, efektif dalam konsentrasi rendah, ekonomis, tidak menyebabkan iritasi, korosif, tidak menyebabkan noda (meninggalkan warna), tidak inaktif oleh bahan organik atau mineral, stabil dalam penyimpanan dan penggunaan, mudah diaplikasikan dan efektif dalam periode pendek atau pada suhu rendah.( Akoso 1996 )

2.4              Pengendalian Penyakit
Pengendalian penyakit mutlak dilakukan dalam usaha peternakan, karena menjadi salah satu faktor keberhasilan dalam usaha tersebut . Menurut Yunilas (2011) program pengendalian penyakit ada dua yaitu :    
2.4.1 Program pencegahan penyakit dan kontrol ternak dikandang
Pengawasan penyakit seharusnya lebih mudah pada pemeliharaan secara intensif dibanding ekstensif, namun secara umum masalah-masalah yang dihadapi adalah identik.
Masalah-masalah yang berhubungan dengan penggelolaan sapi pedaging secara intensif:
1.      Walaupun sapi tidak digembalakan, pengawasan terhadap caplak masih sangat perlu pada daerah yang belum bebas caplak dan jangan dilalaikan.
2.      Pengawasan terhadap parasit dalam, juga masih diperlukan terutama pada ternak yang lebih muda, dimana banyak parasit yang mungkin terdapat pada hijauan yang dipotong di lapangan.
2.4.2 Program pencegahan penyakit dan kontrol ternak di ranch
         Masalah-masalah yang berhubungan dengan penggelolaan sapi di ranch:
          a. Penyakit mulut dan kuku
          b. Penyakit-penyakit wabah dan beberapa parasil eksternal dapat diatasi    
              dengan program pemberantasan berencana, perbaikan produksi dan 
              distribusi vaksin dan perbaikan makanan serta pengelolaan.
          c. Pedet muda lebih mudah terserang penyakit pneumonia pada udara
    yang sangat lembab.
d. Perlu adanya program pengendalian caplak di lapangan.
Aspek-Aspek Yang Harus Dikelola Secara Profesional Dalam Upaya Menjaga Kesehatan Ternak Adalah:
1). Penyediaan Fasilitas Kesehatan
     Dalam perencanaan kandang, fasilitas kesehatan mutlak diperlukan, termasuk minimal seorang ahli dikandang kesehatan. Dalam hal ini bisa dokter hewan atau tenaga laboran (khusus meneliti penyebab penyakit pada ternak).
Fasilitas kesehatan yang penting antara lain:
a. Ruang karantina/isolasi
Biasanya dilengkapi dengan lampu infra merah. Tujuan memberi suasana hangat dan kering sehingga bibit penyakit tidak tahan/berkembangbiak di tempat tersebut.
b. Fasilitas dipping atau spraying
         Dipping merupakan kolam dengan kedalaman dan panjang tertentu tergantung jenis ternak. Spraying berupa lorong/ruangan yang dilengkapi shower-shower dibagian atapnya, dapat difungsikan secara otomatis/manual.
c.    Kandang jepit atau notstal
     Sebagai tempat memberikan perlakuan kesehatan pada ternak dapat berupa vaksinasi, suntik, penimbangan dll.

2). Tindakan Preventif Secara Umum (Terhadap Lingkungan).
          a. Pastikan areal peternakan bebas dari penyakit menular.
Tindakan : lakukan sanitasi lingkungan secara menyeluruh.
b. Pembuatan kandang dan perlengkapan memenuhi syarat  
    kesehatan.
                Contoh: cukup ventilasi, tidak lembab, sesuai arah angin dan
    arah datangnya sinar matahari, tidak tergenang air dan fasilitas 
    pembuangan dan pengolahan limbah dll.
            c. Menjaga kebersihan kandang dan peralatan. Dengan cara   
    pemakaian densifektan, pembersihan dan pencucian secara rutin.
3).Tindakan Preventif Secara Khusus (Terhadap Ternak).
            a.Memandikan ternak
      Kegiatan memandikan ternak terlihat sepele namun jika tidak   ditangani secara rutin  kerugian   yang  diakibatkan  cukup besar.   Memandikan dalam  hal ini tidak hanya dalam arti membersihkan dari kotoran  yang  melekat dibadan tapi juga sekaligus dilakukan  pengobatan  eksternal  terhadap  kuku,  parasit ,  jamur , kudis dll yang sifatnya menggangu kesehatan kulit.
         Untuk memandikan ternak sapi ini perlu disediakan fasilitas seperti dipping atau spraying. Dipping merupakan kolam dengan kedalaman dan panjang (ukuran) tertentu tergantung jenis ternak. Sedangkan spraying berupa lorong/ruangan yang dilengkapi shower-shower dibagian atapnya, dapat difungsikan secara otomatis/manual. Biasanya air yang digunakan telah dicampur dengan obat-obatan dalam konsentrasi tertentu sesuai dengan pengobatan apa yang dilakukan.

Masing-masing fasilitas tersebut memiliki kelebihan maupun kelemahan:
1.        Kelebihan fasilitas dipping adalah pengobatan lebih sempurna karena air yang mengandung obat-obatan dalam konsentrasi tertentu mencapai bagian tubuh yang tersembunyi, namun kelemahannya konsentrasi obat-obatan berkurang bila hujan turun.
2.        Sedangkan kelebihan fasilitas spraying adalah air yang mengandung obat-obatan konsentrasinya dapat dipertahankan namun pengobatan kurang sempurna karena air yang mengandung obat-obatan tersebut tidak mencapai bagian tubuh yang tersembunyi.
Kegiatan memandikan ternak dilakukan dengan caranya ternak digiring masuk ke dalam kolam (dipping) atau ke lorong (spraying). Dipping/spraying ini tata letaknya berada di dekat pintu ke arah yard (exercise). Setelah dimandikan ternak dibiarkan beberapa saat berjalan-jalan bebas untuk mengeringkan badan di areal terbuka kena matahari pagi, dan kegiatan memandikan ternak pada pagi hari, 1 – 2 minggu sekali tergantung keperluan.
b. Vaksinasi
Vaksinasi ini untuk menciptakan kekebalan tubuh terutama terhadap penyakit-penyakit menular.
Contoh:
     1. Penyakit antrax (radang limpa)
     2. Penyakit SE (septichaemia epizootica/penyakit ngorok).
     3. Penyakit brucellosis
     4. Penyakit puru, dakangan
Ini belum termasuk vaksin yang biasanya diberikan saat ternak baru tahap penyapihan.
Contoh: para influensa 3 (PI-3)BVO (bovine virus diare)Clostridial infections dsb
c.  Isolasi/karantina
 Terutama diberlakukan bagi ternak-ternak yang baru di datangkan dari luar peternakan, baik sapi bakalan maupun bibit jantan/betina.
Ini dilakukan untuk mencegah masuknya bibit penyakit yang bisa terbawa oleh ternak sehingga perlu pemeriksaan terlebih dahulu dengan masa karantina + 3 minggu. Dilakukan selama 3 minggu karena umumnya masa inkubasi kuman tampak gejala-gejalannya setelah 2 mingggu. Kalau dalam 2 minggu aman maka ternak baru bisa dicampur dengan ternak lain di kandang pemeliharaan.
d.   Potong kuku
     Potong kuku dilakukan untuk mencegah penyakit foot root (busuk kuku) yang bakteri penyebabnya senang tinggal dikotoran yang ada disela-sela kuku.
1)      Jika kuku panjang maka rongga yang dibagian bawah kuku semakin luas untuk dipenuhi kotoran sehingga menjadi tempat yang nyaman bagi bakteri.
2)       Kemungkinan luka akibat kuku patah pada ternak yang kukunya panjang.
3)      Jalan pincang.
e.    Pengawasan terhadap pakan
        Banyak penyakit yang timbul akibat kurang pengawasan pakan yang diberikan. Apalagi sistem pasture yang hijauanya mencari sendiri. Disamping penyakit akibt defisiensi suatu mineral/vitamin juga misalnya:
1)      Kembung perut (tympani) yaitu penyakit yang disebabkan akibat terlalu banyak makanan hijauan segar muda/pada pagi hari. Gejalanya ternak gelisah, lambung kiri bengkak membesar, tidak mau makan menyebabkan kematian.
2)     Kejang rumput (grass titani) yaitu akiba makan hijauan muda    
      berlebihan sehingga defisiensi mineral Mg.
3) Keracunan yaitu akibat beberapa jenis hijauan, pakan/konsentrat berjamur.
4). Tindakan kuratif (pengobatan)
       Hal ini dilakukan apabila ternak sudah terserang penyakit. Umumnya penyakit-penyakit yang munculnya tiba-tiba dan mematikan, atau penyakit yang tidak mematikan tapi dapat menurunkan bobot badan secara dratis perlu diwaspadai. Banyak sekali penyakit yang menyerang ternak sapi, kambing domba tetapi yang perlu diwaspadai antara lain
a.       Penyakit jembrana (rawa dewa) ...sapi bali’
Gejala:
1.      Demam tinggi pada umur 3 – 4 tahun
2.      Tidak nafsu makan
3.      Pengeluaran air liur dan inggus berlebihan
4.      Permukaan kulit timbul bintik-bintik merah yang sulit hilang
Penyebab:Virus
     Penyakit tidak mematikan tetapi dapat menimbulkan keguguran bila menyerang ternak bunting. Penurunan berat badan akibat nafsu makan menurun.
Pengobatan: Tetrasilin dan kloromfenikol
b.      Penyakit ingusan
Gejala:
1.      Menyerang semua umur
2.      Demam tinggi
3.      Ingus keluar berlebihan
4.      Kornea mata keruh, penglihatan terganggu
5.      Dapat menyebabkan kematian bila parah
Penyebab:Virus herves
Belum ada pengobatan khusus sehingga tindakan preventif lebih diutamakan.

c.       cacing hati
Dejala:
1. Ternak lesu, mata membengkak, berat badan cepat menurun/kurus.
2. Bulu kasar/kusam
3. Dapat menyebabkan kematian
Penyebab: Cacing basiola sp (F.hepaica)
Pengobatan: Peperazin , Albandazole oral , Valbazen , Nitrocymic suntik , Dovanile
( Subroto , 1995 )



III. PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
            MANAJEMEN KESEHATAN TERNAK : proses perencanaan, pengorganisasian, dan pengendalian faktor-faktor produksi melalui optimalisasi sumber daya yang dimilikinya agar produktivitas ternak dapat dimaksimalkan, kesehatan ternak dapat dioptimalkan dan kesehatan produk hasil ternak memiliki kualitas kesehatan sesuai dengan standar yang diinginkan


1.       



2 comments


EmoticonEmoticon