Share a General Science : The Farm, Papers, Internet, Computer, Blogging.

Monday, October 12, 2015

LAPORAN PENGEMBANGAN PETERNAKAN DASAR TERNAK PERAH UNSOED

LAPORAN PENGEMBANGAN PETERNAKAN DASAR TERNAK PERAH UNSOED



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  LATAR BELAKANG
   
Sapi potong merupakan salah satu sumber daya  penghasilan bahan makanan berupa daging yang nilai ekonomi tinggi dan penting  dalam  kehidupan  masyarakat.Ternak adalah segala jenis binatang yang dipelihara untuk tujuan diambil produksinya, berupa daging,dan susu,. Produk tersebut bisa diperoleh dari berbagai jenis ternak, antara lain, kambing, sapi, domba, dan kerbau,Ternak potong adalah jenis ternak yang dipelihara untuk menghasilkan daging sebagai produk utamanya. Sementara ternak kerja yaitu ternka yang dipelihara untuk diambil tenaganya.

          Pemeliharaan sapi potong di Indonesia di lakukan secara ekstensif,semi intensif,danintensif,Pada umumnya sapi-sapi yang dipelihara secara intensif hampir sepanjang hari berada dalam kandang dan diberikan pakan sebanyak dan sebaik mungkin sehingga cepat gemuk, sedangkan secara ekstensif sapi-sapi tersebut dilepas dipadang pengem-balaan dan digembalakan sepanjang hari

Iklim di indonesia dalah Super Humid atau panas basah yaitu klimat yang ditandai dengan panas yang konstan, hujan dan kelembaban yang terus menerus. Temperatur udara berkisar antara 21.11°C-37.77°C dengan kelembaban relatir 55-100 persen. Suhu dan kelembaban udara yang tinggi akan menyebabkan stress pada ternak sehingga suhu tubuh, respirasi dan denyut jantung meningkat, serta konsumsi pakan menurun, akhirnya menyebabkan produktivitas ternak rendah. Selain itu berbeda dengan factor lingkungan yang lain seperti pakan dan kesehatan, maka iklim tidak dapat diatur atau dikuasai sepenuhnya oleh manusia.

1.2. Tujuan

1.      Untuk mengetahui jumlah dan jenis sapi potong
2.      Untuk mengetahui manajemen pemeliharaan sampai dengan penjualan sapi potong..
3.      Untuk mengetahui penyakit dan cara pencegahannya.
4.      Untuk mengetahui macam-macam bahan pakan yang diberikan kepadasapi potong.

1.3. Manfaat

1.      Kita dapat mengetahui jumlah kambing perah yang terdapat di kelompok ternak Rahayu Widodo dan Cablaka.
2.      Kita dapat mengetahui produksi penambahan berat di kedua kelompok ternak tersebut.
3.      Kita dapat mengetahui macam-macam penyakit dan pencegahannya.

1.4 Waktu dan tempat

Praktikum mengenai pengembangan peternakan ternak potong dilaksanakan di dua tempat yang berbeda yaitu di kelompok ternak Rahayu Widodo dilaksanakan pada hari Selasa,16 Mei 2012,dan pada kelompok ternak Cablaka dilaksanakan pada hari Selasa, 23 Mei 2012.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Suhu tubuh sapi dipengaruhi oleh jenis, bangsa, umur, jenis kelamin, kondisi dan aktivitasnya. Kisaran tubuh normal pada sapi adalah 38,5-39,6 0C dengan suhu kritis 40 0C (Subronto, 1985). Suhu lingkungan yang berubah-ubah menyebabkan ternak selalu berusaha untuk menjaga suhu tubuhnya agar tetap, karena sapi adalah hewan homeothermis. Kisaran suhu tubuh normal anak sapi 39,5-40ºC, sedangkan untuk sapi dewasa 38-39,5ºC (Sugeng, 2000). Rata-rata frekuensi pernafasan sapi adalah 10-30 kali per menit. Pernafasan akan lebih cepat pada sapi yang ketakutan, lelah akibat bekerja berat dan kondisi udara terlalu panas (Sugeng, 2000).

Penggemukan ternak sapi merupakan usaha merubah bentuk protein makanan agar dapat dicerna menjadi protein hasil ternak yang dapat dimanfaatkan oleh manusia. Adapun proses perubahan bentuk itu sendiri dalam tubuh sapi potong dapat di katakan sebagai pabrik pengolahan protein yang bersal dari makanan yang terurai melalui penyerapan di usus halus dan proses biosintesa dan dialihkan menjadi serat daging (Murtidjo, 1992).

Respirasi adalah proses pertukaran gas sebagai suatu rangkaian kegiatan fisik dan kimis dalam tubuh organisme dalam lingkungan sekitarnya. Oksigen diambil dari udara sebagai bahan yang dibutuhkan jaringan tubuh dalam proses metabolisme. Frekuensi respirasi bervariasi tergantung antara lain dari besar badan, umur, aktivitas tubuh, kelelahan dan penuh tidaknya rumen. Kecepatan respirasi meningkat sebanding dengan meningkatnya suhu lingkungan. Meningkatnya frekuensi respirasi menunjukkan meningkatnya mekanisme tubuh untuk mempertahankan keseimbangan fisiologik dalam tubuh hewan. Kelembaban udara yang tinggi disertai suhu udara yang tinggi menyebabkan meningkatnya frekuensi respirasi.

Frekuensi denyut nadi dapat dideteksi melalui denyut jantung yang dirambatakan pada dinding rongga dada atau pada pembuluh nadinya. Frekuensi denyut nadi bervariasi tergantung dari jenis hewan, umur, kesehatan dan suhu lingkungan. Disebutkan pula bahwa hewan muda mempunyai denyut nadi yang lebih frekuen daripada hewan tua. Pada suhu lingkungan tinggi, denyut nadi meningkat ( Housebanri ,2009).

BAB III
MATERI DAN METODE

3.1. MATERI
a)      Alat
1.      Alat tulis
2.      Lembar Pertanyaan
b)      Bahan
1.      Objek Praktikum: Kelompok Ternak Rahayu Widodo dan Kelompok Ternak Cablaka
3.2. METODE
1.      Siapkan alat tulis dan daftar pertanyaan.
2.      Kumpulkan data yang dibutuhkan didalam daftar pertanyaan dengancara bertanya ke pengelola peternakan tersebut.
3.      Tulis hasil wawancara dari pihak pengelola ke daftar pertanyaan dan amati.

BAB  IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1   HASIL
4.1.1. Praktikum Pertama
Berdasarkan praktikum yang dilakukan pada praktikum 1 (satu), yang dilaksanakan pada tanggal 15 Mei 2012 pada kelompok peternak Rahayu Widodo yang beralamat di Desa Karang Gintung Kecamatan Sumbang, di peroleh hasil sebagai berikut:
I.     Identitas Kelompok Keternak
Nama lengkap : Rahayu Widodo
Alamat            : Desa Kedung Datar Kecamatan Sumbang
Jenis usaha      : Penggemukan
Personalia kelompok
a.       Ketua                 : Riyanto
b.      Sekretaris           : Rizki
c.        Bendahara         : Faqih
d.      Anggota             : 15 orang
Sejarah berdiri: Tahun 2009

 II.     Ternak dan Manajemen
Jumlah ternak yang ada di kelompok peternak Rahayu Widodo adalah sebanyak 45 ekor diantaranya 1 pedet. Terdiri dari sapi PFH, PO, dan Simentaal. Pengadaan bibit berasal dari peternak dan membeli di pasar Sokaraja, Banjar negara, Kebumen,dan Purbalingga. Pakan yang diberikan pada ternak sapi yang ada di kelompok peternak Rahayu widodo adalah jenis pakan hijauan dan konsentrat. Jenis kandang yang digunakan adalah jenis kandang konvensioanal.
III.     Perhitungan Ekonomi
Ø  Biaya
Biaya tenaga kerja per satuan waktu  : Rp 25.000
Biaya konsentrat per satuan waktu     : Rp.180.000
Biaya hijauan per satuan waktu          :Rp. 100/ kg
Ø  Pendapatan
            Penjualan sapi per satuan waktu         :Rp. 22.500/Kg/3-4 bulan
            Penjualan pupuk per satuan waktu     :Rp. 7000/kantung (± 40 kg).

4.1.2.  Praktikum kedua
Berdasarkan praktikum yang dilakukan pada praktikum 2 (dua), yang dilaksanakan pada tanggal 22 Mei 2012 pada kelompok peternak CABLAKA yang beralamat di Desa Datar Kecamatan Sumbang, di peroleh hasil sebagai berikut:
I.     Identitas Kelompok Ternak
Nama lengkap : CABLAKA
Alamat            : Desa Datar Kecamatan Sumbang
Jenis usaha      : Penggemukan
Personalia kelompok
a.       Ketua     : Sunarjo
b.      Sekretaris           : Janwar Ahmad
c.       Bendahara          : Dirham Dirjo Sismoyo
d.      Anggota             : 27 orang
Sejarah berdiri:
Kelompok Ternak CABLAKA berdiri pada tanggal 14 Februari 2007, terakreditasi pada dinas peternakan Pabupaten Banyumas, mempunyai 27 anggota dan di bentuk kawasan kandang. Pada tahun 2008 kelompok peternak CABLAKA mendapatkan bantuan dari pemerintah dalam perluasan lahan rumput. Pada tahun 2010 mendirikan Sarjana Membangun Desa (SMD), dengan biaya Rp 350 juta yang disalurakan kepada kelompok peternak.

II.  Ternak dan Manajemen
Jumlah ternak yang ada pada kelompok peternak CABLAKA sengan jumlah awal yaitu 12 ekor induk dan 26 ekor jantan dan bertambah diantaranya 10 ekor betina, 17 ekor pedet, dan 8 ekor jantan. Jenis sapi yang di pelihara adalah sapi PO, Simentaal, Brahman croos, dan Limousin. Pengadaan sapi berasal dari anggota kelompok dan berasal dari pasar Ajibarang, Wonosobo, Sokaraja dan Banjar negara. Pakan yang di berikan adalah jenis pakan hijauan dan konsentrat. Jenis kandang yang digunakan adalah jenis kandang konvensional dengan ukuran 16x7 m dan 18x7 m.

III.   Perhitungan Ekonomi
Ø  Biaya
Biaya tenaga kerja per satuan waktu  : Rp.700.000/ bulan
Biaya konsentrat per satuan waktu     : Rp.20.880.000
Kebutuhan amoniasi jerami kering      : Rp. 11.160.000
Obat cacing 1 periode penggemukan : Rp. 500.000
Biaya listrik, air, transportasi, dll        : Rp. 600.000
Ø  Pendapatan
            Penjualan sapi per satuan waktu         :Rp. 9,5 juta ( sapi jantan)

4.2. PEMBAHASAN
4.2.1. Pemilihan Bibit
            Penilaian keadaan individual sapi potong yag akan dipilih sebagai sapi potong bibit, pada prinsipnya berdasarkan pada umur, genetik, ukuran vital dari bagian – bagian tubuh, bentuk luar tubuh, daya pertumbuhan, dan temperamen.( Frandsond, 1992 ).
Sedangkan menurut Sugeng (2001) menyatakan bahwa, dalam memilih kriteria bibit sapi yang baik adalah :
1.      Jenis kelamin, untuk sapi potong biasanya membutuhkan sapi jantan. Alasanya memiliki pertambahan berat badan harian yang lebih tinggi daripada sapi betina.Aau sapi betina yang sudah tidak produktif  lagi untuk digemukkan.
2.      Umur, sapi bakalan yang akan digemukkan yang masih berumur 2 - 2,5 tahun.Selain pertumbuhan mencapai tingkat optimum, efisiensi penggunaan pakan pun cukup tinggi.
3.      Penampilan fisik, badan sehat, bentuk tubuh proporsional, dan sapi muda kurus yang pertumbuhanya tidak normal.
4.2.2. Pakan
 Pakan, bila ditinjau dari segi nutrisi, merupakan unsur yang sangat menentukan pertumbuhan, reproduksi, dan kesehatan ternak. Pemberian pakan yang baik adalah sesuai dengan kebutuhan nutrisi. Nutrisi seperti protein, karbohidrat, dan lemak, merupakan sumber energi yang dapat kembali dan saling membentuk. Misalnya energi dari sisa dari karbohidrat dapat membentuk protein melalui energi yang dikonsumsi mikroba rumen atau proses biokimia tubuh. Demikian juga  protein yang tidak digunakan sebagai sumber energi. ( Mulyono,1998)

Pemberian pakan hijauan diberikan 10% dari bobot badan (Sugeng, 1992). Menurut Murtidjo (1993), hijauan pakan merupakan pakan utama bagi ternak ruminansiadan berfungsi sebagai sumber gizi, yaitu protein, sumber tenaga, vitamin dan mineral.
4.2.3. Kosentrat

Konsentrat adalah bahan pakan yang digunakan bersama bahan pakan lain untuk meningkatkan keserasian gizi dari keseluruhan pakan dan dimaksudkan untukdisatukan atau dicampur sebagai suplemen atau bahan pelengkap (Hartadi et al., 1980).

Murtidjo (1993) menjelaskan bahwa konsentrat untuk ternak kambing umumnya disebutsebagai pakan penguat atau bahan baku pakan yang memiliki kandungan serat kasarkurang dari 18% dan mudah dicerna. Pakan penguat dapat berupa dedak jagung, ampastahu, bungkil kelapa, bungkil kacang tanah, atau campuran pakan tersebut.

4.2.4. Perkandangan
            Ada dua bentuk kandang sapi potong yaitu, kandang sapi potong bentuk tunggal dan ganda.Kandang untuk sapi potong bisa dibuat dari bahan – bahan sederhana dan murah,tetapi harus dibuat dengan konstruksi yang kuat.Adapun persyaratan teknis yang diperlukan dalam pembuatan antara lain :
1.      Konstruksi, diusahakan konstruksi kandang cukup kuat terutama tiang – tiang utama bangunan kandang .
2.      Atap, diusahakan bahan atap yang ringan dan memiliki daya serap panas yang relatif kecil untuk kandang di daerah panas.
3.      Dinding, diusahakan bahan bangunan dinding papan yang baik serta ventilasi yang cukup.
4.      Lantai, diusahakan lantai berlubang–lubang kecil. Hal ini dimaksud untuk menjaga kekeringan Lantai kandang, dan mempermudah pembersihan. (Mc Doweell, 1973).
Berdasarkan praktikum yang dilakukan kemarin bahwa kandang yang digunakan di adalah bentuk ganda.
4.2.5. Kesehatan dan Pencegahan Penyakit
Faktor kesehatan ternak sangat menentukan keberhasilan usaha peternakan. Olehkarena itu menjaga ternak harus menjadi salah satu prioritas utama disamping kualitasmakanan ternak dan tatalaksana yang memadai (Kanisius. 1984). Gatenby (1986)menyatakan bahwa, penyakit yang sering menyerang ternak yaitu parasit cacing, penyakit titani, penyakit radang limpha, penyakit cacar mulut, penyakit ngorok.

Kebutuhan beberapa vitamin B; tiamin-HCL, 65 μg/kg berat badan, riboflavin, 65μg/kg berat badan: peridoksin, 65 μg/kg berat badan: asam pantotenat, 130: biotin, 1,0:cobalt amin B12, 0,34-0,68: asam folik, 62 μg/1 makanan cair, kolin, 260, mg/l: asamnikotinik, 2,6 mg/l (Parakkasi, 1995). Vitamin B-Kompleks ini mempunyai fungsisebagai penambah nafsu makan ternak. Pemberian vitamin ini ada dua cara, yaitu dengancara penyuntikan langsung kepada ternak dan pemberian melalui alat pencernaan hewan(Cahyono, 1998).

Perlindungan ternak terhadap penyakit dapat dilakukan dengan beberapa metodeseperti melalui pengobatan, vaksinasi, dan desinfeksi. Dua metode yang pertamamelindungi ternak dari dalam tubuh, tetapi bila tantangan lingkungan penyakit begituhebat, perlindungan tersebut tidak akan mencakupi. Oleh karena itu desinfeksi yangefisien sangat penting dalam melindungi ternak terhadap penyakit ( Sarwono, 1990).

Menurut Suryani (1993) sanitasi kandang sangat diperlukan untuk kesehatan ternak. Oleh karena itu sebelum ternak dimasukkan ke kandang sebaiknya kandangterlebih dahulu di semprot dengan desinfektan seperti : antisep, neo antisep, formades, medisep dan lain-lain yang tidak menyebabkan efek samping pada ternak.


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1   Kesimpulan

1.      Pada kelompok peternak Rahayu Widodo dan kelompok peternak CABLAKA keduanya merupakan kelompok ternak ternak yang mengusahakan penggemukan sapi tetapi pada kelompok ternak Rahayu Widodo yang banyak di gemukkan adalah sapi betina.

2.      Pada kelompok ternak Rahayu widodo jenis ternak yang di pelihara adalah  jenis sapi PO, Simental dan PFH sedangkan pada kelompok ternak CABLAKA jenis ternak yang dipelihara adalah jenis sapi PO, Limousin, simentall dan Brahman cross.

3.      Pada praktikum 1 dan 2 sapi sapi yang di pelihara merupakan sapi-sapi yang berasal dari pasar. Sapi-sapi tersebut merupakan sapi yang mempunyai kualitas yang kurang baik


5.2.  Saran
5.2.1. Tempat Praktikum
1. Tempat praktikum seharusnya memiliki ruangan untuk berkumpul, sehingga didalam penyampaian tentang masalah peternakan praktikan dapat nyaman.
2. Tempat praktikum juga seharusnya memiliki kamar kecil atau wc, supaya praktikan tidak kebingungan sewaktu waktu jika ada yang ingin ke kamar kecil.










EmoticonEmoticon